SELAMAT DATANG DI GROSIR FASHION SYAR'I SURABAYA

Syarat-syarat Hijab Syar’i

Syarat-syarat Hijab Syar’i

Sesungguhnya Hijab syar’i bagi wanita Muslimah wajib tebal dan tidak nipis, tidak boleh hijab syar'i itu bercorak warna-warni yang mencolok mata. Hijab syar'i pula tidak boleh sempit (ketat). Tidak boleh pula berhijab disertai parfum dan menawan, kerana Nabi Shallallaahu alaihi wa-sallam mengharamkan wanita yang mengenakan parfum dan keluar menuju satu tempat yang didalamnya terdapat ajnabi (lelaki yang bukan mahram).Baginda Rasulullah ShallaLlaahu Alaihi Wa-Sallam bersabda: Sesiapa dari kalangan wanita yang mengenakan wewangian lantas ia melalui suatu kaum sehingga kaum itu mencium wanginya, maka si wanita itu adalah (dianggap) penzina. Hijab  syar'i Muslimah tidak boleh pula menyerupai pakaian lelaki. Diwajibkan pula hijab ini menutupi seluruh anggota badan yang dapat membuat fitnah.




Sungguh terdapat banyak nash (dalil) dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan kewajiban wanita untuk menutupi seluruh anggota badannya, kerana wanita itu, seluruh tubuhnya adalah aurat, tidak dibenarkan lelaki yang bukan mahram melihat sesuatu apapun dari dirinya. Diantara dalilnya ialah: “Hendaklah mereka (wanita) menghulurkan menghulurkan khimar (kain labuh) ke atas leher-leher mereka” (An-Nuur:31). Berkenaan dengan ayat ini Rasulullah s.a.w bersabda: Ketika ayat ini turun, wanita-wanita Anshar menjadikan kain-kain tirai (gordin) mereka dan memotong-motongnya menjadi khimar (penutup tubuh) iaitu : menutupi wajah-wajah mereka Dalam hadits lain, yang telah disepakati kesahihannya, berkenaan dengan kisah Aisyah Radhiyallaahu `Anha, dalam satu peristiwa yang terkenal dengan sebutan Hadiitsul Ifki (Gossip dusta), ketika beliau tertidur di tempatnya, kemudian datanglah Shafwan Ibnul Mu’thal kepadanya dan beliau ummul mu’minin berkata: Lalu aku berkhimar (dalam lain riwayat disebutkan : aku menutupi wajahku dengan jilbabku).

Oleh sebab itu, menjadi kewajiban bagi seluruh wanita Muslimah,hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, terhadap dirinya. Dan hendaklah ia tetap iltizam dengan hijab syar'i-nya dengan keiltizaman (komitmen) yang optimal. Jangan menyepelakan satu hal pun dari masalah ini, kemudian ia menyangka bahwa dirinya telah berhijab syar'i dengan sempurna. Lalu dia menyangka bahwa bagian dari anggota badannya tidak berpengaruh apa-apa dan tidak menimbulkan fitnah, atau dia menganggap bahwa hal itu bukanlah merupakan tabarruj yang tercela.

Maka merupakan kewajiban baginya untuk berusaha keras menjauhi perkara-perkara yang mempengaruhi komitmennya terhadap hijab syar'i, atau perkara-perkara lain yang merusakkan sifat malunya. Demi menghindari keburukan orang-orang fasiq sebagaimana kebiasaan mereka terhadap wanita yang secara fisik tidak menampakkan kemuliaan akhlak mereka. Agar dirinya tidak terperangkap ke dalam kemurkaan Allah dan siksa-Nya,sebagai terdapat keterangan mengenai hal tersebut, yang datang daripada Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa-Sallam, baginda bersabda: Dua golongan dari ahli nereka yang aku tidak peduli kepada keduanya disebutkan diantaranya : Dan wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang melenceng meninggalkan kebenaran, kepalanya seperti punuk unta, dia telah tersesat, dan tidak akan memasuki jannah dan tidak akan mencium bau jannah (syurga), padahal wanginya jannah ini tercium dari perjalanan sejauh sekian dan sekian � (HR.Muslim).

Para ahli ilmu berkata: Maksud dari kalimat: Berpakaian tapi telanjang ialah bahwa mereka mengenakan pakaian akan tetapi pakaian itu sempit(ketat) atau tidak menutupi seluruh bagian tubuhnya yang dapat menimbulkan fitnah.
Syaikh Shalih Utsaimin ditanya tentang sifat Hijab Syar`I, maka ia rahimahullah menjawab: Pendapat yang paling rajih (benar) ialah bahwa hendaklah wanita menghijabi seluruh bagian yang dapat menimbulkan fitnah terhadap kaum lelaki.

No comments:

Post a Comment

 

IKLAN

HALAMAN FACEBOOK

Most Reading

Theme images by friztin. Powered by Blogger.